?PALANGKA RAYA, Kalteng.co – Di tengah kemarau yang meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), masyarakat Kalimantan Tengah tidak hanya mengandalkan upaya teknis untuk menghadapi ancaman bencana. Ikhtiar menjaga keselamatan daerah juga diwujudkan melalui doa yang melibatkan keberagaman tradisi dan kepercayaan masyarakat.
?
?Suasana tersebut terlihat dalam Ritual Memohon Hujan Dewa Yadnya yang berlangsung di Lapangan Rektorat Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Tampung Penyang Palangka Raya, Kamis (3/9/2026). Kegiatan itu turut dihadiri Gubernur Kalimantan Tengah, H. Agustiar Sabran. ?Ritual digelar sebagai bentuk ikhtiar spiritual untuk memohon turunnya hujan sekaligus memanjatkan harapan agar Kalimantan Tengah mendapat perlindungan dari ancaman karhutla dan kabut asap.
?
?Bagi pemerintah daerah, kegiatan tersebut juga memiliki makna lebih luas. Selain menjadi ruang spiritual, ritual menjadi momentum untuk menumbuhkan kesadaran bahwa persoalan lingkungan dan ancaman bencana membutuhkan kepedulian seluruh lapisan masyarakat. ?Gubernur Agustiar Sabran mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, kebersamaan yang terbangun dalam ritual menjadi gambaran bahwa perbedaan tradisi dan keyakinan dapat dipertemukan melalui kepedulian terhadap daerah.
?
?“Semangat kebersamaan dalam kegiatan ini mencerminkan kepedulian masyarakat terhadap kebaikan Kalimantan Tengah. Berbagai unsur hadir dengan niat dan harapan yang sama. Doa disampaikan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa sesuai agama dan kepercayaan masing-masing,” tutur Gubernur. ?Ia menegaskan, doa tidak boleh berhenti sebagai ikhtiar spiritual. Di lapangan, pencegahan karhutla tetap harus dilakukan secara konsisten melalui kerja bersama antara pemerintah, aparat keamanan, relawan, dunia usaha dan masyarakat.
?
?“Doa harus seiring dengan ikhtiar. Pemerintah bersama TNI, Polri, BPBD, relawan, dunia usaha, dan masyarakat harus terus bersinergi. Pencegahan perlu menjadi prioritas, termasuk tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar,” tegas Agustiar. ?Masyarakat juga diminta tidak mengabaikan potensi munculnya titik api. Setiap indikasi kebakaran, kata dia, perlu segera dilaporkan agar dapat ditindaklanjuti sebelum api meluas dan menimbulkan dampak yang lebih besar.
?
?Agustiar turut mengingatkan bahwa perlindungan lingkungan bukan semata-mata menjadi kewajiban pemerintah. Hutan, sumber air dan lingkungan di sekitar permukiman merupakan bagian dari kekayaan daerah yang membutuhkan keterlibatan masyarakat dalam menjaganya.
?
?“Menjaga Kalimantan Tengah bukan hanya tugas pemerintah. Setiap orang perlu berperan sesuai dengan tanggung jawabnya. Perlindungan hutan dan sumber air serta pencegahan kebakaran adalah tanggung jawab bersama,” jelasnya. ?Ia berharap doa yang dipanjatkan melalui Ritual Memohon Hujan Dewa Yadnya dapat melengkapi berbagai langkah penanganan karhutla yang selama ini dilakukan di lapangan.
?
?Sementara itu, Rektor IAHN Tampung Penyang Palangka Raya, Tiwi Etika, mengatakan pelaksanaan ritual merupakan bagian dari ikhtiar spiritual masyarakat Hindu untuk memohon hujan bagi Kalimantan Tengah. ?Menurut Tiwi, pelaksanaan kegiatan tersebut tidak dimaksudkan sebagai pengganti upaya penanganan bencana, melainkan menjadi bagian dari dorongan moral dan spiritual agar seluruh pihak semakin peduli terhadap lingkungan.
?
?“Ritual Memohon Hujan Dewa Yadnya adalah ikhtiar spiritual untuk memohon turunnya hujan bagi Kalimantan Tengah. Doa perlu disertai langkah nyata dari seluruh pihak untuk menjaga lingkungan dan mencegah potensi bencana,” ujar Tiwi. ?Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam ritual tersebut adalah keterlibatan tiga tradisi Hindu yang berkembang di Kalimantan Tengah, yakni tradisi Bali, Dayak Ngaju dan Dayak Barito.
?
?Kehadiran ketiga tradisi itu memperlihatkan kekayaan budaya yang hidup di tengah masyarakat sekaligus menjadi simbol bahwa keberagaman dapat dipertemukan dalam sebuah tujuan bersama. ?Tiwi menjelaskan, keberadaan tradisi tersebut merupakan bagian dari identitas masyarakat yang perlu terus dirawat di tengah perkembangan zaman.
?
?“Dalam tradisi Hindu terdapat beragam tradisi yang menjadi bagian dari identitas masyarakat. Pada ritual ini, kami menghadirkan tiga tradisi, yakni Bali, Dayak Ngaju, dan Dayak Barito. Keterlibatan ketiganya menunjukkan bahwa keberagaman dapat menjadi kekuatan untuk membangun kebersamaan,” terangnya.
?
?Ia juga menyampaikan apresiasi atas kehadiran Gubernur Agustiar Sabran serta dukungan terhadap kegiatan yang melibatkan unsur masyarakat dan berbagai tradisi tersebut. ?Ritual Dewa Yadnya dipimpin Basir Tobbie Suswoyo, Jero Gede Suparman, dan Kandong Ardianto.
?
?Di tengah kondisi kemarau dan meningkatnya kewaspadaan terhadap karhutla, kegiatan tersebut menjadi bagian dari pesan bersama bahwa penanganan bencana tidak cukup dilakukan oleh satu pihak. Upaya pemerintah dan aparat di lapangan membutuhkan dukungan masyarakat melalui kepedulian terhadap lingkungan dan pencegahan sejak dini.
?
?Melalui perpaduan antara ikhtiar teknis, kesadaran lingkungan, serta doa yang lahir dari keberagaman tradisi, masyarakat Kalimantan Tengah diharapkan tetap solid menghadapi musim kemarau sekaligus menjaga daerah dari ancaman kebakaran dan kabut asap. (pra)