← Kembali ke https://kalteng.co/

?Mukhtarudin Libatkan Pensiunan dalam Penguatan Tata Kelola Pekerja Migran

https://kalteng.co/ • 03 September 2026 14:23
?Mukhtarudin Libatkan Pensiunan dalam Penguatan Tata Kelola Pekerja Migran

??JAKARTA, Kalteng.co – Pengalaman panjang para mantan pejabat dan pegawai yang pernah menangani urusan pekerja migran dinilai masih memiliki nilai strategis bagi pemerintah. Karena itu, Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Mukhtarudin membuka peluang keterlibatan para pensiunan BNP2TKI, BP2MI, dan Kementerian P2MI dalam memperkuat berbagai program pelindungan serta peningkatan kualitas Pekerja Migran Indonesia (PMI). ? ? ?

Komitmen tersebut mengemuka dalam pertemuan Mukhtarudin bersama Paguyuban Pensiunan Pegawai BNP2TKI/BP2MI/KP2MI di Kantor Kementerian P2MI, Jakarta, Senin (31/8/2026). ?Pertemuan tidak hanya menjadi ajang silaturahmi. Para pensiunan juga menyampaikan pengalaman, pandangan, dan sejumlah masukan terkait penyelenggaraan penempatan serta pelindungan PMI yang dapat menjadi bahan evaluasi bagi kementerian. ? ? ?

Sejumlah tokoh yang hadir di antaranya Ketua Paguyuban yang juga mantan Deputi Penempatan Agusdin Subiantoro, Wakil Ketua sekaligus mantan Deputi Pelindungan Anjar Prihantoro, Wakil Ketua yang juga mantan Deputi Penempatan Teguh Hendro Cahyono, serta Sekretaris Paguyuban Yunafri Agus yang pernah menjabat Kepala Biro Perencanaan. ? ? ?

Mukhtarudin menyebut keberadaan para senior tersebut menjadi modal penting bagi kementerian yang masih relatif baru dalam menjalankan mandatnya. ?Menurut dia, pengalaman serta jejaring yang dimiliki para pensiunan dapat membantu pemerintah memperkuat kelembagaan dan memastikan berbagai kebijakan berjalan lebih efektif di lapangan. ??“Kami ingin mendapatkan masukan, saran, dan dorongan-dorongan penguatan dari sisi kelembagaan. Karena kami-kami ini baru semua di kementerian ini,” kata Mukhtarudin. ? ? ? ?

Di tengah upaya melakukan pembenahan tata kelola migrasi tenaga kerja, pemerintah menempatkan pelindungan PMI sebagai salah satu fokus utama. ? ? ?Mukhtarudin mengatakan, kebijakan pelindungan kini diarahkan agar mencakup seluruh tahapan perjalanan seorang pekerja migran, mulai dari persiapan sebelum berangkat, masa bekerja di negara tujuan, hingga ketika kembali ke Indonesia. ? ?

?“Fokus yang pertama adalah peningkatan kualitas pelindungan bagi pekerja migran Indonesia dari sebelum penempatan, ketika penempatan, dan purna penempatan. Jadi perlindungan mulai dari hulu sampai hilir,” ujarnya. ?Namun, pelindungan bukan satu-satunya agenda yang ditekankan. Pemerintah juga ingin mengubah komposisi PMI agar semakin banyak pekerja Indonesia yang masuk ke pasar kerja dengan tingkat keterampilan menengah dan tinggi. ? ? ?

Menurut Mukhtarudin, peluang tersebut terbuka seiring meningkatnya kebutuhan tenaga kerja profesional di berbagai negara. Penempatan PMI saat ini juga telah berkembang ke negara seperti Jepang, Korea Selatan, hingga sejumlah negara Eropa. ? ? ?Bahkan, PMI disebut telah memasuki bidang-bidang strategis, termasuk industri aerospace dan pertahanan di Korea Selatan, selain sektor engineering dan manufaktur. ? ? ?

“Ke depannya kita lebih memfokuskan kepada penempatan formal dan profesional, khususnya yang skilled workers, khususnya yang medium dan high-skilled,” katanya. ? ? ?Pola penyiapan tenaga kerja pun mulai diarahkan berdasarkan kebutuhan konkret di negara tujuan. Dengan demikian, jenis pekerjaan dan kompetensi yang dibutuhkan ditentukan lebih dahulu sebelum proses pelatihan dilakukan. ? ?

?“Jadi, latih, kompeten, tempatkan. Sehingga yang dilatih ini insyaallah mayoritas semuanya akan siap untuk bekerja di luar negeri sesuai kompetensi yang dibutuhkan,” tutur Mukhtarudin. ? ? ?

Salah satu kebijakan yang disiapkan untuk mendukung agenda tersebut adalah Program SMK Go Global. Program ini menjadi salah satu prioritas Kementerian P2MI untuk periode 2026–2029. ? ? ?Program tersebut merupakan tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Kabinet pada 20 Oktober 2025 mengenai penyiapan 500.000 tenaga kerja, khususnya untuk kebutuhan sektor welder dan hospitality. ? ?

?Target penempatan disusun secara bertahap. Pada 2026 ditargetkan sebanyak 40.000 orang, kemudian 140.000 orang pada 2027, 180.000 orang pada 2028, dan 140.000 orang pada 2029. ? ?

?Mukhtarudin menekankan, bahwa skema tersebut tidak semata-mata berorientasi pada jumlah tenaga kerja yang diberangkatkan, melainkan juga memastikan pekerja memiliki kompetensi yang sesuai kebutuhan pengguna. ? ? ?“Ini semuanya skilled worker. Jadi mulai dari hulu sampai hilir. Mulai peningkatan kapasitasnya, kemudian penempatannya, sampai perlindungannya semuanya dalam satu lembaga, yaitu di Kementerian P2MI,” jelasnya. ? ? ?Untuk tahun 2026, pelaksanaan program telah memasuki pelatihan Batch 1 dengan sekitar 3.340 peserta yang tersebar di 20 wilayah BP3MI. ? ? ?

Berbeda dari pola pelatihan yang hanya berangkat dari ketersediaan program pendidikan, SMK Go Global dirancang dengan pendekatan berbasis permintaan pasar kerja luar negeri. ? “Jadi ada Job Order-nya dulu, sektornya apa, kompetensinya apa, baru kita latih seperti apa. Kita balik dari hulunya dulu baru ke hilirnya,” kata Mukhtarudin. Pemerintah juga memilih tidak membangun seluruh infrastruktur pelatihan dari awal. Kementerian P2MI justru mengoptimalkan ekosistem pendidikan dan vokasi yang telah tersedia di berbagai kementerian, lembaga, dan perguruan tinggi. ? ? ?

Saat ini, kerja sama telah dibangun dengan 12 kementerian/lembaga yang memiliki ekosistem pendidikan dan vokasi. Ratusan lembaga vokasi kemudian dapat dimanfaatkan untuk mendukung proses peningkatan kompetensi calon PMI. ? ? ?

Kementerian P2MI turut mengembangkan Migrant Center di lingkungan perguruan tinggi sebagai pusat informasi, edukasi, pembekalan, sekaligus pengembangan kompetensi talenta yang dipersiapkan memasuki pasar kerja global. Hingga kini, Migrant Center telah tersedia di 32 perguruan tinggi dan satu lembaga pelatihan. ? ?“Ekosistem hulunya kita memang memanfaatkan sumber daya yang ada. Karena mereka sudah siap infrastruktur, siap sumber daya. Jadi tinggal kita menyinergikan saja,” ujar Mukhtarudin. ? ?

?Di sisi pelindungan, pemerintah juga terus menangani berbagai persoalan yang dihadapi PMI, mulai dari pencegahan keberangkatan nonprosedural, penanganan pengaduan, ancaman siber hingga penyediaan layanan darurat melalui shelter. ??Data hingga 29 Agustus 2026 mencatat Kementerian P2MI telah memfasilitasi 243.816 layanan penempatan PMI ke berbagai negara tujuan. ? ? ?Sementara itu, upaya pemberdayaan PMI dan pekerja yang telah kembali ke Indonesia juga terus diperluas. Salah satunya melalui program Desa Migran Emas yang telah ditetapkan di 756 desa pada 27 provinsi. ? ? ?

Dari sisi paguyuban, Agusdin Subiantoro menyambut baik keterbukaan Menteri P2MI terhadap keterlibatan para pensiunan. Agusdin mengaku terkesan karena dalam pertemuan tersebut Menteri Mukhtarudin turut menghadirkan jajaran eselon I Kementerian P2MI. ? ?“Saya sangat tersanjung Bapak menghadirkan seluruh eselon I. Semoga ini bisa menjadi awal baru bagi kita. Saya sudah sembilan tahun pensiun,” kata Agusdin. ? ? ?

Menurutnya, masa pensiun tidak serta-merta menghilangkan pengalaman yang telah dimiliki para mantan pegawai. Pengetahuan tersebut, kata dia, masih dapat dimanfaatkan untuk membantu pemerintah menghadapi persoalan migrasi tenaga kerja yang terus berkembang. ? Paguyuban pun menyatakan kesiapan untuk mengambil peran sebagai mitra pemerintah, termasuk menjadi mentor di daerah, memperkuat edukasi migrasi aman, dan melakukan transfer pengetahuan kepada generasi baru. ? ? ?

“Pengalaman yang kami miliki mudah-mudahan bisa dijadikan acuan. Kami siap mendukung program P2MI, penguatan pelaksanaan di lapangan sebagai mentor, migrasi aman, dan transfer pengetahuan,” ujarnya. ?Dalam kesempatan tersebut, Agusdin turut mengingatkan pemerintah mengenai persoalan keberangkatan PMI secara ilegal atau nonprosedural yang masih terjadi. ?Ia menilai penguatan edukasi masyarakat menjadi bagian penting untuk mencegah calon PMI terjebak dalam jalur keberangkatan ilegal maupun praktik perdagangan orang. ? ?

Menurut Agusdin, Gerakan Nasional Migran Aman yang digagas pemerintah dapat menjadi instrumen penting untuk memperkuat pemahaman masyarakat sejak tingkat paling bawah. ?“Kita melihat masih maraknya ilegal. Ini benar sekali Bapak lakukan Gerakan Nasional Migran Aman ini,” katanya. ?Ia menegaskan paguyuban tidak ingin hanya menjadi tempat berkumpulnya para pensiunan. Dengan latar belakang dan pengalaman yang dimiliki, para mantan pegawai siap memberikan kontribusi apabila pemerintah membutuhkan. ? ? ?

Transfer pengetahuan, lanjut Agusdin, dapat dilakukan melalui berbagai mekanisme dan idealnya berlangsung secara terjadwal agar persoalan aktual di lapangan dapat dibahas bersama. Transfer pengetahuan dapat dilakukan melalui berbagai media dan mekanisme, tetapi idealnya dilakukan secara terjadwal sehingga berbagai persoalan aktual dapat dibahas dan menjadi masukan bagi Kementerian P2MI,” ujarnya. ? ?

?Mukhtarudin menyambut gagasan tersebut. Ia menilai pengalaman para senior merupakan sumber pengetahuan yang tetap relevan bagi kementerian dalam menjalankan berbagai agenda transformasi. ?“Pengalaman dan jejaring para senior ini tentu sangat penting untuk membantu kami memperkuat program-program Kementerian P2MI,” tandasnya. ? ?

?Bagi Mukhtarudin, pertemuan dengan paguyuban pensiunan diharapkan tidak berhenti sebagai agenda silaturahmi. Ruang komunikasi tersebut akan diarahkan menjadi kolaborasi yang lebih konkret, terutama dalam memperkuat tata kelola penempatan, meningkatkan kompetensi pekerja, sekaligus memastikan pelindungan PMI berjalan secara utuh. ?Kolaborasi lintas generasi itu diharapkan dapat memperkuat fondasi Kementerian P2MI dalam menghadapi tantangan migrasi tenaga kerja sekaligus membuka lebih banyak peluang bagi pekerja Indonesia untuk bersaing di pasar kerja global dengan keterampilan yang lebih tinggi. (pra)

Sumber: https://kalteng.co/
Baca Artikel Asli