KALTENG.CO-Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) menjadi fenomena tahunan yang kembali membayangi berbagai wilayah di Indonesia, terutama saat puncak musim kemarau pada bulan Agustus hingga September. Karhutla dapat dipicu oleh gabungan kondisi alam—seperti suhu udara yang sangat panas—dan aktivitas manusia yang sengaja membuka lahan dengan cara membakar.
Saat kemarau berlangsung panjang, kelembapan udara dan vegetasi menurun drastis. Lahan yang mongering ini menjadi bahan bakar yang sangat mudah tersulut. Titik api kecil dapat dengan cepat berkembang menjadi kobaran hebat yang meluas tak terkendali.
Bahaya Asap Karhutla bagi Kesehatan
Dampak Karhutla tidak hanya berhenti pada kerusakan ekosistem atau ancaman api yang merembet ke pemukiman warga. Ancaman yang sering kali tidak terlihat namun sangat fatal adalah asap sisa pembakaran.
Asap Karhutla membawa berbagai senyawa berbahaya, termasuk Karbon Monoksida (CO) dan Partikulat Halus (PM2.5). Partikel PM2.5 yang berukuran sangat kecil mampu menembus hingga ke saluran napas terdalam dan masuk ke aliran darah. Dampaknya meliputi:
-
Terhambatnya sirkulasi oksigen dalam tubuh.
-
Gangguan pernapasan akut (ISPA).
-
Peningkatan risiko penyakit jantung.
-
Risiko jangka panjang berupa kanker paru-paru.
Melansir data dari IQAir, efek buruk dari menghirup asap Karhutla sering kali tidak langsung terasa dalam 24 hingga 48 jam pertama. Namun, akumulasi paparan asap secara terus-menerus dalam jangka panjang sangat membahayakan keselamatan jiwa. Memperoleh udara bersih dan sehat adalah hak dasar setiap warga negara, khususnya mereka yang bermukim di daerah rawan Karhutla.
Langkah Efektif Meminimalisir Risiko Paparan Asap Karhutla
Untuk melindungi diri dan keluarga dari bahaya asap saat bencana Karhutla terjadi, berikut beberapa panduan keselamatan yang wajib diterapkan:
1. Segera Menjauh dari Titik Api Jika melihat indikasi kebakaran hutan, prioritaskan keselamatan dengan langsung menjauh dari lokasi kejadian. Segera laporkan titik api kepada pihak berwujud atau pemerintah daerah setempat agar penanganan cepat dapat dilakukan sebelum api membesar. Menjauh dari lokasi pembakaran juga menurunkan risiko paparan langsung polutan beracun konsentrasi tinggi.
2. Gunakan Masker Standar Respirator Saat asap mulai menyelimuti kawasan pemukiman, gunakan masker penutup hidung dan mulut yang memiliki filter memadai. Pilih jenis masker spesifikasi tinggi seperti N95, KN95, N100, atau FFP2. Masker jenis ini dirancang khusus untuk menyaring partikel halus (PM2.5) secara efektif agar tidak masuk ke saluran pernapasan.
3. Pantau Kualitas Udara Secara Berkala Gunakan aplikasi pemantau kualitas udara di ponsel pintar untuk memantau indeks PM2.5 dan CO secara real-time. Jika Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) menunjukkan kategori tidak sehat atau berbahaya, hidupkan pembersih udara (air purifier) di dalam rumah. Bila kondisi udara di luar semakin memburuk dan tidak memungkinkan untuk bertahan, segera evakuasi diri ke tempat pengungsian yang aman.
4. Tetap Berlindung di Dalam Ruangan Kurangi seluruh aktivitas di luar rumah. Bila terpaksa harus melakukan evakuasi atau bepergian, gunakan kendaraan roda empat dengan jendela tertutup rapat untuk meminimalisir masuknya asap dari luar.
5. Hindari Aktivitas Pemicu Api dan Polusi Dalam Ruangan Saat situasi udara memburuk, jangan menambah beban polusi di dalam mau pun luar ruangan. Hindari menyalakan lilin, menggunakan korek api, membakar sampah, hingga aktivitas seperti menyedot debu (vacuum cleaning) yang dapat menerbangkan partikel halus di dalam rumah.
6. Rapatkan Pintu, Jendela, dan Atur Ventilasi Pastikan seluruh jendela, pintu, dan celah ventilasi rumah tertutup rapat guna mencegah masuknya asap. Jika menggunakan Air Conditioner (AC), aktifkan mode resirkulasi agar sirkulasi udara hanya berputar di dalam ruangan tanpa mengambil udara kotor dari luar. Anda juga dapat menggunakan dehumidifier untuk menjaga kelembapan serta kualitas udara dalam ruangan tetap optimal. (*/tur)