KALTENG.CO-Rencana pemerintah menetapkan target pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen dalam Kerangka Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Pikiran Fiskal (KEM-PPKF) 2027 dinilai terlalu tinggi.
Di tengah tekanan global dan domestik yang dinamis, angka tersebut dinilai kurang rasional mengingat instrumen pengungkit pertumbuhan dari belanja negara telah dioptimalkan secara masif pada periode 2025–2026.
Ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, mengantisipasi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2027 berada pada level moderat di kisaran 4,7 persen. Terbatasnya ruang fiskal menjadi faktor utama yang menghambat percepatan laju ekonomi nasional.
Faktor Penghambat Laju Ekonomi 2027
Keterbatasan mesin pertumbuhan ekonomi pada 2027 dipicu oleh penyesuaian postur belanja negara dan tekanan ekonomi riil di tingkat rumah tangga:
-
Normalisasi Belanja Negara: Pemotongan anggaran pada program strategis nasional seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) mengurangi dampak stimulus ekonomi dari sektor pemerintah.
-
Penyusutan Daya Beli Desa: Selesainya fase pembangunan fisik program Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih menghentikan pengungkit di sektor konstruksi. Sebagian Dana Desa diperkirakan terserap untuk pembayaran kewajiban utang program kepada perbankan BUMN (Himbara), yang menekan arus kas perekonomian desa.
-
Tekanan Konsumsi Rumah Tangga: Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang terjadi sepanjang 2026 berpotensi menahan konsumsi masyarakat sebagai penopang utama Produk Domestik Bruto (PDB).
Ancaman Inflasi dan Risiko Fenomena Iklim
Asumsi inflasi pemerintah yang dipatok pada level $2,5\% \pm 1\%$ dinilai belum sepenuhnya memperhitungkan variabel ketidakpastian iklim global. Celios memproyeksikan angka inflasi 2027 berisiko melonjak hingga 5,74 persen.
| Komponen Makro | Asumsi Target Pemerintah (RAPBN 2027) | Proyeksi Proposional Celios | Factor Risiko Utama |
| Pertumbuhan Ekonomi | 6,0% | Maksimal 4,7% | Terbatasnya stimulus belanja fiskal |
| Tingkat Inflasi | 2,5% ($\pm 1\%$) | 5,74% | Dampak El-Nino Godzilla & imported inflation |
| Nilai Tukar (USD/IDR) | Rp17.500 | Rp18.400 | Capital outflow & tekanan valuta asing |
Potensi gelombang El Nino Godzilla pada akhir 2026 hingga 2027 berisiko memicu kenaikan harga komoditas pangan pokok seperti beras. Ditambah kenaikan biaya produksi di sektor industri, imported inflation akan langsung berdampak pada kenaikan indeks harga konsumen.
Ketahanan Nilai Tukar Rupiah
Asumsi kurs Rupiah sebesar Rp17.500 per Dolar AS pada RAPBN 2027 dinilai kurang adaptif terhadap tren pasar valuta asing. Dengan pergerakan realisasi kurs yang berada di kisaran Rp17.800 hingga Rp18.100 per Dolar AS, posisi Rupiah diproyeksikan melemah menuju level Rp18.400 per Dolar AS pada 2027.
Tekanan pada mata uang domestik ini dipicu oleh aksi lepas aset (capital outflow) akibat kewaspadaan investor terhadap tata kelola fiskal, serta meningkatnya permintaan masyarakat dan pelaku usaha domestic terhadap Dolar AS. Kerangka strategi kebijakan fiskal yang lebih terukur dinilai menjadi kunci utama dalam menjaga kredibilitas indikator makro nasional. (*/tur)