KALTENG.CO-Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) kembali mengancam sejumlah wilayah di Indonesia. Pemerintah pusat secara resmi mengumumkan bahwa 6 provinsi kini berada dalam status kritis akibat lonjakan titik api yang meluas. Secara keseluruhan, total area hutan dan lahan yang hangus terbakar di seluruh penjuru Indonesia telah menembus 107 ribu hektare.
Eskalasi darurat ini disampaikan langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Djamari Chaniago usai menggelar rapat koordinasi bersama Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni dan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto pada Senin (10/8/2026).
“Daerah yang kami waspadai sebagai daerah yang paling kritis ada 6 provinsi, (karhutla) juga muncul di daerah lain di luar yang 6. Kalau yang 6 kami pantau dengan ketat,” tegas Djamari.
Peta Risiko BMKG dan 6 Provinsi Prioritas
Berdasarkan analisis dan data prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), risiko penyebaran api tingkat tinggi sebagian besar terkonsentrasi di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Kondisi kekeringan menuntut penguatan mitigasi, pengawasan, dan kesiapsiagaan darurat secara masif.
Dari total luasan yang terbakar, sekitar 48.889,69 hektare berada di 6 provinsi prioritas penanganan. Berikut rincian luasan lahan terdampak di wilayah kritis tersebut:
| Provinsi | Luas Lahan Terbakar (Hektare) |
| Kalimantan Barat (Kalbar) | 28.680,47 ha |
| Riau | 15.551,76 ha |
| Kalimantan Tengah (Kalteng) | 3.069,52 ha |
| Sumatera Selatan (Sumsel) | 664,87 ha |
| Jambi | 540,00 ha |
| Kalimantan Selatan (Kalsel) | 383,07 ha |
Satgas Darat Jadi Ujung Tombak Pemadaman
Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto, menegaskan bahwa tim Satuan Tugas (Satgas) Darat menjadi tulang punggung utama dalam menundukkan si jago merah. Hal ini dikarenakan skema Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sangat bergantung pada ketersediaan awan hujan alami, yang diproyeksikan minim hingga akhir Agustus.
“Operasi udara sifatnya membantu. Ketika tidak ada awan hujan, OMC tidak dapat dilakukan. Dalam kondisi seperti itu, operasi darat menjadi sangat penting, terutama untuk memastikan api di lahan gambut benar-benar padam,” jelas Suharyanto.
Meski demikian, dukungan armada udara tetap disiagakan secara intensif. BNPB menyiagakan total 35 unit armada udara yang terdiri dari:
-
12 unit helikopter/pesawat patroli
-
21 unit helikopter water bombing
-
2 unit pesawat Operasi Modifikasi Cuaca (OMC)
Untuk memperkuat gempuran di jalur udara—khususnya pada kawasan lahan gambut yang sulit dijangkau—BNPB juga sedang mengupayakan penambahan 8 unit helikopter water bombing baru. Skema pemadaman dilakukan terpadu: setelah pemboman air dari udara (water bombing), tim darat meluncur untuk melakukan penyisiran dan pendinginan (cooling down) agar titik api tidak menyala kembali.
Update Karhutla Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS)
Selain wilayah Sumatera dan Kalimantan, fokus penanganan juga tertuju pada kebakaran di kawasan konservasi Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur. Kebakaran yang terdeteksi sejak Senin (3/8/2026) ini diperkirakan telah melahap lahan seluas 742,70 hektare dan angka tersebut masih dalam proses pendataan ulang.
Dari 34 titik api yang sempat mengepung Bromo, kerja keras tim gabungan mulai membuahkan hasil. Titik api di area P30 dan Dingklik kini sudah berhasil dipadamkan. Namun, pertempuran memadamkan api oleh petugas darat masih terus berlanjut di wilayah Ranupani.
TNBTS Ditutup Sementara untuk Umum
Demi keselamatan publik dan kelancaran proses pemadaman, seluruh kawasan wisata TNBTS saat ini ditutup total bagi wisatawan.
Pemerintah memastikan bahwa penutupan akan terus diberlakukan hingga kondisi lingkungan benar-benar dinyatakan aman dan terbebas dari potensi kemunculan kembali titik api (flare-up). (*/tur)