Asap Karhutla Picu Puluhan Ribu Kasus ISPA
CYRUSTIMES, PALANGKA RAYA – Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai semakin terasa pada kesehatan masyarakat. Di balik langit yang tertutup asap, puluhan ribu kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) telah tercatat di wilayah terdampak sepanjang Juli hingga Agustus 2026.
Kementerian Kesehatan mencatat 50.891 kasus ISPA berkaitan dengan periode karhutla hingga akhir Agustus 2026. Anak-anak menjadi salah satu kelompok yang paling rentan terhadap paparan asap.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak lagi berhenti pada luas lahan terbakar dan jumlah hotspot. Asap yang bertahan di udara telah berubah menjadi persoalan kesehatan masyarakat.
Anak-anak Jadi Kelompok Rentan
Asap karhutla mengandung partikulat berukuran sangat kecil yang dapat masuk ke sistem pernapasan. Risiko menjadi lebih besar ketika paparan berlangsung berulang dalam kondisi kualitas udara buruk.
Anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma dan penyakit pernapasan serta masyarakat yang bekerja di luar ruangan menjadi kelompok yang membutuhkan perlindungan lebih besar.
Kementerian Kesehatan sebelumnya memperkuat respons kesehatan di daerah terdampak, termasuk dengan mobilisasi tenaga kesehatan dan kesiapan fasilitas pelayanan.
Di Kalteng, pemerintah bahkan mulai menyediakan rumah oksigen atau pos kesehatan darurat bagi masyarakat yang terdampak kabut asap.
Langkah tersebut memperlihatkan besarnya kebutuhan perlindungan kesehatan ketika kualitas udara terus memburuk.
Karhutla Bukan Lagi Sekadar Persoalan Api
Dampak kesehatan juga berpotensi terus berlangsung meski lokasi kebakaran berada jauh dari permukiman.
Asap dapat bergerak mengikuti kondisi atmosfer dan angin sehingga masyarakat yang tidak berada di sekitar titik kebakaran tetap dapat terpapar.
Di Kalimantan Selatan misalnya, BMKG mencatat kualitas udara pada 19 Agustus sempat mencapai kategori berbahaya dan disertai penurunan jarak pandang.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa ukuran keberhasilan penanganan karhutla tidak cukup hanya dilihat dari padamnya api.
Kualitas udara dan kondisi kesehatan masyarakat juga menjadi indikator penting yang harus dipulihkan.
Memasuki September yang disebut Kementerian Kehutanan sebagai periode puncak karhutla 2026, ancaman paparan asap masih membutuhkan perhatian serius.