KALTENG.CO-Industri minuman tradisional Jepang kembali mencatatkan prestasi gemilang di kancah internasional. Sake asal Prefektur Yamaguchi, Tenbi Junmai Ginjo Hotaten, resmi dinobatkan sebagai Champion Sake dalam ajang bergengsi International Wine Challenge (IWC).
Minuman hasil karya produsen Choshu Sake Brewery Corp. tersebut berhasil meraih penghargaan tertinggi setelah menyisihkan 1.738 produk yang dikirimkan oleh 457 produsen dari seluruh dunia.
Racikan Khas Shimonoseki dengan Sentuhan Aroma Apel
Mengutip laporan Kyodo pada Rabu, 9 September, Tenbi Junmai Ginjo Hotaten diproduksi di Kota Shimonoseki, wilayah barat Prefektur Yamaguchi. Minuman ini dibuat secara khusus menggunakan beras varietas unggulan untuk pembuatan sake yang ditanam langsung di tanah Shimonoseki.
Secara profil rasa, Tenbi Junmai Ginjo Hotaten memikat para juri lewat karakteristiknya yang unik:
-
Aroma khas: Menyegarkan seperti buah apel.
-
Cita rasa: Memiliki tingkat keasaman (acidity) yang cerah serta rasa yang kuat dan berlapis (complex).
-
Sensasi akhir (aftertaste): Bertahan lama dan berkesan di lidah.
Presiden Choshu Sake Brewery Corp., Susumu Okamoto, mengaku terkejut sekaligus bangga atas pencapaian luar biasa ini. Ia berharap penghargaan internasional tersebut bisa menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan kebudayaan Jepang ke pasar global yang lebih luas.
Daftar Pemenang Kategori Sake di International Wine Challenge
Kategori sake sendiri pertama kali diperkenalkan dalam kompetisi IWC pada tahun 2007. Sejak saat itu, predikat Champion Sake menjadi salah satu pengakuan paling bergengsi bagi para pembuat sake di tingkat dunia.
Selain Tenbi Junmai Ginjo Hotaten, beberapa produsen lain juga memboyong penghargaan penting di ajang tahun ini:
-
Great Value Champion Sake: Diraih oleh Keiryu Ginjo buatan Endo Brewery Inc. dari Prefektur Nagano. Kategori ini khusus diberikan kepada produk berkualitas tinggi yang dipasarkan dengan harga terjangkau.
-
Sake Brewer of the Year: Sabetan gelar ini jatuh kepada Niizawa Sake Brewery Co. dari Prefektur Miyagi. Kemenangan ini menjadi rekor tersendiri karena mereka berhasil mempertahankan gelar tersebut selama lima tahun berturut-turut.
Pencapaian Niizawa Sake Brewery Co. terasa kian impresif mengingat sejarah panjang perjuangan mereka. Perusahaan tersebut sempat kehilangan fasilitas utamanya akibat kehancuran total pascabencana gempa bumi dan tsunami pada Maret 2011, sebelum akhirnya berhasil bangkit dan memindahkan pusat produksinya.
Pengakuan Global bagi Tradisi Sake Jepang
Rentetan penghargaan yang diraih para produsen lokal ini semakin mengukuhkan posisi sake di pasar internasional. Bukan sekadar minuman tradisional, sake kini makin diakui sebagai produk kuliner bernilai seni tinggi yang mampu bersaing sejajar dalam kompetisi minuman berkelas dunia. (*/tur)