KALTENG.CO-Momen langka dan menyita perhatian publik terjadi pada Minggu (6/9) pagi. Empat gunung api aktif di berbagai penjuru Indonesia mengalami erupsi secara bersamaan. Kejadian ini sempat memicu spekulasi di masyarakat terkait potensi keterkaitan antar-dapur magma.
Namun, Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) dengan tegas membantah asumsi tersebut. Tidak ada jaringan saluran magma bawah tanah atau “jalur pipa” tunggal yang menghubungkan gunung-gunung api tersebut.
Murni Dinamika Internal dan Ring of Fire
Anggota IABI sekaligus pakar geofisika, Dr. Daryono, menjelaskan bahwa peristiwa ini murni kebetulan secara temporal karena sistem vulkanik di masing-masing gunung sudah mencapai titik jenuh.
“Erupsi yang terjadi bersamaan ini murni dikarenakan masing-masing sistem vulkanik memang telah berada pada tahap kritis akumulasi tekanan fluida dan magma di dalamnya,” ujar Daryono.
Indonesia memang berdiri di atas zona konvergensi kompleks — pertemuan Lempeng Indo-Australia, Pasifik, dan Filipina yang menunjam di bawah Lempeng Eurasia. Aktivitas yang berlangsung simultan ini merupakan manifestasi alami dari dinamika tektonik global di kawasan Pasifik Ring of Fire.
Setiap gunung memiliki karakteristik material yang berbeda. Perbedaan kandungan silika dan gas vulkanik menentukan tingkat eksplosivitas serta jangkauan sebaran abunya. Magma berkadar gas tinggi dan kental (viskositas tinggi) cenderung menghasilkan letusan eksplosif yang memecah magma menjadi partikel abu vulkanik halus (pyroclastic ash), sehingga mudah terbawa arus angin troposfer hingga ratusan kilometer.
Rincian Empat Gunung Api yang Erupsi Bersamaan
Berikut adalah detail aktivitas erupsi di empat gunung tersebut berdasarkan data BMKG, Badan Geologi Kementerian ESDM, dan PVMBG:
1. Gunung Anak Krakatau (Selat Sunda)
Di antara keempatnya, Gunung Anak Krakatau mencatatkan dampak sebaran abu paling luas. Erupsi yang berlangsung sejak Jumat (4/9/2026) hingga Minggu (6/9/2026) pukul 07.10 WIB ini melontarkan material hingga ke lapisan troposfer tengah dan atas.
Berdasarkan analisis RGB Citra Himawari-9 BMKG bersama PVMBG dan VAAC Darwin, paparan abu vulkanik terbagi ke dua arah utama:
-
Timur Laut – Selatan: Melingkupi wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, serta perairan sekitarnya.
-
Barat Daya – Barat Laut: Menjangkau Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan, hingga Samudra Hindia.
Erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 50 mm dan durasi 16 detik. Dampak sebaran abu ini bahkan sempat mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta.
2. Gunung Semeru (Jawa Timur)
Gunung Semeru meletus pada pukul 07.51 WIB dengan tinggi kolom abu mencapai 1.000 meter di atas puncak. Amplitudo maksimum terekam 23 mm dengan durasi 102 detik.
Badan Geologi melarang keras seluruh aktivitas warga di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 km dari puncak, serta radius 500 meter dari tepi sungai guna menghindari ancaman awan panas guguran dan lahar dingin.
3. Gunung Ili Lewotolok (Nusa Tenggara Timur)
Erupsi terkuat dalam 48 jam terakhir di Gunung Ili Lewotolok terjadi pukul 06.41 WITA. Tinggi kolom abu mencapai 600 meter condong ke arah tenggara, dengan amplitudo maksimum terekam 40 mm berdurasi 82 detik.
4. Gunung Ibu (Maluku Utara)
Gunung Ibu yang berada di Halmahera Barat meletus pada pukul 04.55 WIT. Kolom abu teramati setinggi 400 meter mengarah ke timur laut, dengan amplitudo maksimum 15 mm dan durasi 35 detik.
Perbedaan Intensitas Erupsi
Daryono menambahkan bahwa besarnya jangkauan abu Gunung Anak Krakatau dipicu oleh tingginya volume material yang terlontar ke atmosfer atas sebelum didistribusikan oleh sirkulasi angin regional (seperti angin monsun).
Sebaliknya, erupsi di Gunung Semeru, Ili Lewotolok, dan Gunung Ibu tergolong sebagai erupsi dengan intensitas energi yang lebih terlokalisasi. Tinggi kolom abu pada ketiga gunung tersebut sangat dipengaruhi oleh kekuatan tekanan gas dalam saluran kawah (conduit) serta gaya apung termal (thermal buoyancy) saat berinteraksi dengan udara sekitar.
Masyarakat diimbau untuk tetap tenang, tidak mudah terpengaruh oleh isu-isu spekulatif mengenai keterhubungan antar-gunung api, dan terus memantau informasi resmi dari BMKG, PVMBG, serta BPBD setempat. (*/tur)