KALTENG.CO-Fenomena kemarau panjang yang memicu krisis air bersih dan lonjakan kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai wilayah Indonesia direspons dengan seruan ikhtiar spiritual secara nasional. Majelis Ulama Indonesia (MUI) bersama Dewan Masjid Indonesia (DMI) mengajak seluruh umat Islam untuk menggelar Shalat Istisqa guna memohon diturunkannya hujan.
Langkah ini dipandang sebagai bentuk permohonan dan kepasrahan diri kepada Allah SWT di tengah dampak kemarau yang makin mengkhawatirkan masyarakat.
Ikhtiar Spiritual Pelengkap Upaya Pemadaman Lapangan
Wakil Ketua Umum MUI, Cholil Nafis, menegaskan bahwa Shalat Istisqa merupakan dorongan moral dan spiritual yang sangat penting untuk melengkapi kerja keras fisik para petugas di lapangan.
“Kemarau dan kekeringan melanda kita, bahkan karhutla masih terus terjadi. Mari doakan mudah-mudahan segera turun hujan di Indonesia, di tempat-tempat kemarau dan kebakaran. Bahkan kami mengajak umat untuk Shalat Istisqa,” ujar Cholil Nafis dalam keterangannya di Jakarta.
Menurutnya, krisis air bersih di pemukiman warga serta sebaran kabut asap yang mengancam kesehatan masyarakat tidak hanya membutuhkan intervensi teknis, tetapi juga pendekatan keagamaan. Kiai Cholil mengimbau para pengurus masjid dan lembaga keagamaan di daerah terdampak untuk segera mengoordinasikan pelaksanaan Shalat Istisqa secara berjamaah.
DMI Instruksikan Masjid Seluruh Indonesia Bergerak
Nada serupa juga disuarakan oleh Pimpinan Pusat DMI. Melalui surat edaran resmi yang ditandatangani Ketua Umum DMI Jusuf Kalla, seluruh jajaran pengurus masjid dan jamaah di Indonesia diinstruksikan untuk menyelenggarakan Shalat Istisqa.
Jusuf Kalla menyoroti bahwa kenaikan suhu lingkungan serta kekeringan ekstrem telah meluas hingga mengganggu stabilitas ekosistem dan kehidupan sehari-hari warga.
Kalbar dan Kalteng Jadi Fokus Utama Penanganan Karhutla
Seruan doa bersama ini bertepatan dengan meningkatnya kewaspadaan pemerintah terhadap ancaman karhutla di Pulau Kalimantan. Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni mengungkapkan bahwa setelah sempat melandai, jumlah titik panas (hotspot) di Kalimantan Barat (Kalbar) dan Kalimantan Tengah (Kalteng) kembali menunjukkan tren kenaikan.
“Setelah kemarin semua enam provinsi prioritas trennya turun, hari ini Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah menunjukkan kembali hotspot yang meningkat. Artinya, prioritas utama sekarang ini secara nasional tetap Kalbar dan Kalteng,” jelas Menhut Raja Antoni.
Dengan dilaksanakannya Shalat Istisqa secara serentak di berbagai daerah, masyarakat dan tokoh agama berharap curah hujan dapat segera turun untuk memadamkan titik-titik api, menekan paparan asap, serta memulihkan ketersediaan air bersih di wilayah yang melanda kekeringan. (*/tur)