← Kembali ke https://kalteng.co/

Karhutla Palangka Raya Makin Mengkhawatirkan, 817 Kejadian dan 1.401 Hektare Lahan Terbakar

https://kalteng.co/ • 07 October 2026 15:54
Karhutla Palangka Raya Makin Mengkhawatirkan, 817 Kejadian dan 1.401 Hektare Lahan Terbakar

PALANGKA RAYA, Kalteng.co – Kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Palangka Raya masih menjadi perhatian. Hingga Rabu (7/10/2026), dashboard Karhutla Kota Palangka Raya mencatat 565 titik panas terdeteksi di wilayah kota.

Angka tersebut merupakan bagian dari 5.032 titik panas yang terdeteksi di wilayah Kalimantan Tengah. Berdasarkan pembaruan dashboard pada pukul 12.02 WIB, deteksi titik panas terakhir di Palangka Raya tercatat pada pukul 02.49 WIB melalui satelit NASA MODIS/Terra-Aqua.

Titik panas tersebut tersebar di sejumlah wilayah Palangka Raya, antara lain Kecamatan Rakumpit, Bukit Batu, Sabangau, Jekan Raya dan Pahandut. Dashboard mencatat sekitar 182 lokasi titik panas di wilayah kota.

Kondisi karhutla juga berdampak terhadap kualitas udara. Dashboard menunjukkan kualitas udara Palangka Raya berada pada angka 2.136 dan masuk kategori “Berbahaya”. Situasi tersebut berlangsung di tengah meningkatnya aktivitas karhutla di sejumlah wilayah.

Data lapangan yang dihimpun BPBD Kota Palangka Raya menunjukkan, sejak 1 Juni hingga 6 Oktober 2026, telah terjadi 817 kejadian karhutla dengan total luasan lahan terbakar mencapai 1.401,90 hektare.

Manager Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops-PB) BPBD Kota Palangka Raya, Balap Sipet mengatakan, seluruh personel saat ini dalam kondisi siaga dan siap bergerak apabila menerima laporan kebakaran dari masyarakat.

“Sejak 1 Juni hingga 6 Oktober 2026, kami mencatat ada 817 kejadian karhutla dengan total luasan lahan terbakar sebanyak 1.401,90 hektare di Kota Palangka Raya,” katanya, Rabu (7/10/2026).

Dari data tersebut, Jekan Raya menjadi wilayah dengan jumlah kejadian karhutla terbanyak, yakni 493 kejadian. Selanjutnya Sabangau 172 kejadian, Bukit Batu 76 kejadian, Pahandut 71 kejadian dan Rakumpit lima kejadian.

Di sisi lain, dampak terhadap kesehatan juga mulai tercatat. Dashboard mencatat 470 kasus ISPA sepanjang Oktober 2026, dengan sembilan dari 11 puskesmas telah melaporkan kasus. Puskesmas Menteng menjadi yang tertinggi dengan 89 kasus, disusul Bukit Hindu 78 kasus dan Pahandut 61 kasus.

Menyikapi kondisi tersebut, Pemerintah Kota Palangka Raya telah memutuskan untuk memperpanjang status tanggap darurat karhutla. Wali Kota Palangka Raya Fairid Naparin mengatakan keputusan itu diambil setelah rapat koordinasi bersama sejumlah pihak terkait pada Selasa (6/10/2026) kemarij.

“Hasil rapat kemarin, kami sepakat untuk melanjutkan dan memperpanjang status tanggap darurat di Kota Palangka Raya,” ujar Fairid.

Menurutnya, durasi perpanjangan status tersebut masih menyesuaikan dengan kebijakan di tingkat Provinsi Kalimantan Tengah. Namun, secara umum perpanjangan status tanggap darurat biasanya dilakukan selama 30 hari ke depan.

“Untuk berapa lama status itu tergantung di provinsi. Kalau di provinsi sampai tanggal 29, nanti apakah kita mengikuti atau menghitung sendiri. Biasanya perpanjangan dilakukan selama 30 hari ke depan,” tegasnya. (oiq)

Sumber: https://kalteng.co/
Baca Artikel Asli